Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND

Laboratorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ma Chung sukses menyelenggarakan kegiatan edukasi literasi keuangan pada Rabu, 8 April 2026. Mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika anak muda saat ini, kegiatan ini menghadirkan Ibu Idha Syafitri Nurhandayani, SE, selaku Manajer Bisnis Pegadaian Rampal Malang sebagai narasumber utama.
Acara yang berlangsung di lingkungan kampus ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa-mahasiswi semester 4 dari Program Studi International Business Management dan Digital Business Accounting.
Bagas Brian Pratama, S.Tr.Ak., M.Tr.Ak., CAAT, selaku Kepala Laboratorium Ekonomi dan Bisnis sekaligus Dosen Program Studi Digital Business Accounting Universitas Ma Chung, menekankan pentingnya pemahaman mengenai tata kelola keuangan di usia produktif. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang khusus untuk memberikan sosialisasi mengenai inklusi keuangan bagi mahasiswa.
“Kami ingin membekali mahasiswa dengan kesadaran finansial yang kuat. Inklusi keuangan bukan sekadar akses, tapi bagaimana mereka mampu mengelola dan menempatkan aset secara cerdas,” ujar Bagas.
Strategi Menabung Emas: Solusi Melawan Hedonisme
Dalam sesi materi berjudul “Bangun Masa Depan Tanpa Hedonisme, Mulai dengan Menabung Emas”, Ibu Idha Syafitri menyoroti tantangan besar yang dihadapi Generasi Z: fenomena FOMO (Fear of Missing Out).
Menurut Idha, generasi muda saat ini sangat rentan terjebak dalam tren yang menguras kantong, sehingga kapasitas mereka untuk berinvestasi sering kali diragukan. Pergeseran kebutuhan dari yang semula “Sandang, Pangan, Papan” menjadi kebutuhan “Gaya Hidup” menjadi tantangan tersendiri.
Ia merinci empat “Jebakan Finansial” yang harus diwaspadai mahasiswa:
1. FOMO: Membeli sesuatu hanya karena takut ketinggalan tren.
2. Experience Spending: Lebih mengutamakan pengeluaran konsumtif demi pengalaman sesaat ketimbang investasi jangka panjang.
3. Ketergantungan Utang: Penggunaan fitur paylater yang tidak terkontrol untuk pemenuhan kebutuhan tersier.
4. Menunda Kebutuhan Primer: Cenderung mengabaikan tabungan masa depan demi kesenangan saat ini.
Meskipun tantangan gaya hidup meningkat, Idha mengapresiasi kesadaran investasi di kalangan anak muda yang mulai tumbuh. Sebagai penutup, Idha memberikan pesan kuat agar mahasiswa tidak tergiur dengan iming-iming keuntungan instan.
“Jangan sampai kita melakukan salah investasi. Waspada dengan investasi bodong. Pilih instrumen yang aman dan terpercaya,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong pola pikir mahasiswa agar lebih bijak dan bertanggung jawab dalam mengalokasikan keuangan mereka, beralih dari budaya konsumtif menuju budaya investasi.
Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.