Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND

Sebanyak 15 anak dari Komunitas Anak Indonesia Hebat di Kecamatan Sukun, Kota Malang, mengikuti kegiatan pendampingan menulis cerita pendek tiga paragraf atau pentigraf bertajuk “Suara Hati Anak” pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh tim dosen Program Studi Mandarin for Education and Business, Universitas Ma Chung, ini dirancang untuk melatih anak-anak mengenali sekaligus mengungkapkan emosi mereka melalui tulisan.
Program ini digagas sebagai respons atas minimnya ruang bagi anak untuk berlatih mengenali dan menuangkan perasaannya. Selama ini, kegiatan literasi yang berjalan di masyarakat lebih banyak menyasar kemampuan membaca dan menulis secara teknis, sementara aspek literasi emosional masih jarang disentuh.
“Anak-anak sering kali sudah bisa menyebut nama emosi, tapi kesulitan menjelaskan kenapa mereka merasakannya atau dalam situasi apa emosi itu muncul,” ujar Yohanna Nirmalasari, S.Pd., M.Pd., Ketua Pelaksana program ini.
Tiga Sesi Pendampingan
Kegiatan berlangsung dalam tiga sesi. Sesi pertama mengenalkan anak-anak pada berbagai jenis emosi dasar, seperti senang, sedih, marah, dan takut. Sesi kedua memperkenalkan struktur cerita pendek tiga paragraf yang terdiri dari pembuka, isi, dan penutup. Pada sesi ini, anak-anak juga diajak berlatih berimajinasi agar tidak hanya berfokus pada emosi yang mereka rasakan, terutama emosi negatif. Sesi ketiga menjadi puncak kegiatan, di mana anak-anak didampingi langsung untuk menuliskan cerita pendek berdasarkan pengalaman emosional pribadi mereka.
Selain menulis, anak-anak juga diajak bermain ular tangga emosi, sebuah permainan interaktif yang digunakan untuk menggali perasaan-perasaan yang sering mereka alami sehari-hari.
Kemarahan dan Konflik Pertemanan yang Paling Banyak Muncul

Dari hasil pendampingan, tema kemarahan dan konflik dengan teman sebaya menjadi topik yang paling banyak ditulis oleh anak-anak. Salah satu peserta menuliskan pengalamannya saat bermain bersama teman yang tanpa sengaja merusak mainannya hingga membuatnya marah, namun konflik itu berakhir dengan permintaan maaf dan sikap saling memaafkan.
Meski masih ditemukan sejumlah kendala teknis, seperti kalimat yang terlalu panjang tanpa tanda baca yang tepat serta cerita yang umumnya hanya terdiri dari dua hingga tiga kalimat, para pendamping menilai kegiatan ini sebagai langkah awal yang penting.
“Yang membanggakan, anak-anak sudah berani menuliskan penyebab kemarahan mereka sampai bagaimana mereka menyelesaikannya. Itu modal besar untuk terus dilatih,” tambah Yohanna.
Menggali Kesedihan yang Jarang Terungkap
Kegiatan ini juga berhasil mengungkap berbagai hal yang membuat anak-anak merasa sedih, mulai dari sikap orang tua yang dianggap lebih memperhatikan adik, tuntutan untuk selalu mengalah, tekanan untuk terus belajar dan mendapat nilai tinggi, hingga perasaan tidak diajak jalan-jalan bersama keluarga.
Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan literasi emosional tidak cukup hanya dilakukan melalui pendampingan pada anak, tetapi juga perlu menyasar orang tua. Dengan begitu, orang tua dan pendamping dapat bersama-sama memperhatikan perkembangan emosi anak, sehingga generasi mendatang tidak hanya tumbuh unggul secara kognitif, tetapi juga secara sosial, psikomotorik, dan emosional.
Program pendampingan serupa direncanakan berlanjut secara bertahap untuk terus memperkuat kemampuan bercerita sekaligus kepekaan emosional anak-anak Komunitas Anak Indonesia Hebat di masa mendatang.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kepedulian dan kontribusi sivitas akademika Universitas Ma Chung dalam mendukung tumbuh kembang anak di lingkungan masyarakat, khususnya dalam memperkuat literasi emosional generasi muda.
Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.