Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND
Dipublikasikan pada 20 Agustus 2026, 10:48 WIB
Diperbarui pada 20 Agustus 2026, 10:56 WIB
MALANG — Upaya mempertemukan musik orkestra dengan kesenian tradisional terus dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen, mahasiswa, seniman, dan komunitas seni di Kota Malang. Salah satunya diwujudkan melalui pelatihan kolaborasi musik orkestra dan kesenian Bantengan Malang yang dilaksanakan secara rutin setiap Minggu siang di Malang Creative Center (MCC).
Kegiatan ini dipimpin oleh Ayyub Anshari Sukmaraga, S.Ds., M.Ds. sebagai ketua tim pengabdian masyarakat Universitas Ma Chung, bersama Sultan Arif Rahmadianto, S.Sn., M.Ds. dan Paulus Lucky Tirma Irawan, S.Kom., M.T. sebagai anggota pelaksana. Ketiga dosen dari lintas program studi ini mendapatkan dana hibah dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) DPPM Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan beberapa mahasiswa yang berperan dalam proses pelatihan, dokumentasi, koordinasi lapangan, hingga pendampingan peserta.
Program tersebut melibatkan dua mitra seni, yakni Malang Youth Orchestra (MYO) dan Paguyuban Bantengan Macan Poteh Djati Gembol. Kolaborasi ini dirancang untuk mempertemukan karakter musik orkestra yang dimainkan secara harmonis dengan kekuatan ekspresi, ritme, dan tradisi yang terdapat dalam pertunjukan Bantengan.
Di sisi Malang Youth Orchestra, kegiatan didukung oleh Deny Handrianata Mahendra selaku ketua serta Tutut Pristiati, S.Sn., M.Pd. yang berperan sebagai pendiri, konduktor, sekaligus pelatih utama MYO. Tutut juga merupakan dosen di Departemen Seni dan Desain Universitas Negeri Malang. Sementara itu, proses pendampingan dari komunitas Paguyuban Bantengan Macan Poteh Djati Gembol dilakukan oleh Sugiantok, seorang seniman Bantengan yang juga aktif sebagai musisi band.
Pelatihan diikuti lebih dari 30 siswa muda anggota orkestra. Sebagian besar peserta memainkan biola, sementara peserta lainnya menggunakan instrumen pengiring seperti pianika, keyboard, dan gitar akustik. Dalam setiap sesi, peserta tidak hanya berlatih memainkan materi musik, tetapi juga mulai memahami karakter pertunjukan Bantengan, termasuk kebutuhan tempo, dinamika, serta pola musik yang dapat mendukung gerakan dan suasana pertunjukan.
Pemilihan lagu yang akan dimainkan dalam kolaborasi dilakukan oleh Deny dan Tutut dengan mempertimbangkan penggunaan lagu-lagu tradisional Indonesia. Pemilihan tersebut menjadi bagian penting dari proses kreatif karena musik yang dimainkan harus dapat menyatu dengan karakter kesenian Bantengan tanpa menghilangkan identitas masing-masing bentuk seni.
“Kami ingin membuka ruang pertemuan antara musik orkestra dan kesenian tradisional. Harapannya, peserta tidak hanya belajar memainkan musik, tetapi juga memahami bahwa seni tradisi dan seni modern dapat berdialog dan menghasilkan karya yang menarik,” ujar Ayyub. Dosen DKV Ma Chung ini berharap bahwa kegiatan ini tidak sekadar diarahkan untuk menghasilkan sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di luar kelas. Mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam mengelola kegiatan seni, melakukan dokumentasi, berkoordinasi dengan mitra, sekaligus mendampingi proses kreatif yang melibatkan banyak pihak.
Sementara itu, Deny Handrianata Mahendra menilai kolaborasi tersebut memberikan pengalaman baru bagi para pemain muda MYO. “Kami ingin anak-anak tidak hanya bermain orkestra dalam konteks pertunjukan konvensional. Melalui kolaborasi ini, mereka belajar beradaptasi dengan bentuk kesenian yang berbeda dan memahami bagaimana musik dapat menjadi bagian dari pertunjukan tradisional,” ungkap Deny.
Hal senada disampaikan Tutut Pristiati. Menurutnya, proses latihan menjadi kesempatan bagi para pemain muda untuk mengembangkan kepekaan musikal sekaligus mengenal kekayaan seni tradisional di daerahnya. “Kolaborasi seperti ini penting karena anak-anak dapat mengalami langsung bagaimana musik berinteraksi dengan gerak, tradisi, dan karakter pertunjukan Bantengan. Dari proses tersebut mereka belajar mendengar, merespons, dan bekerja sebagai sebuah kelompok,” kata Tutut.
Selain itu, kegiatan ini juga semakin meriah dengan hadirnya kolaborasi bersama Sally Monica, S.Ds., alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Ma Chung yang kini aktif sebagai pengajar alat musik tradisional Tiongkok, erhu, di Kelenteng Eng An Kiong, Malang. Keterlibatan Sally menambah warna musikal dalam proses kolaborasi, sekaligus memperluas pertemuan berbagai latar seni dan budaya dalam kegiatan tersebut. Sally juga kerap terlibat dalam penampilan musik erhu pada berbagai perayaan besar di Kelenteng Eng An Kiong, seperti Imlek dan Cap Go Meh. Kehadirannya diharapkan semakin memperkaya eksplorasi musikal dan menunjukkan bahwa kolaborasi lintas tradisi dapat menjadi ruang kreatif yang menarik bagi generasi muda.
Rangkaian pelatihan ini dipersiapkan sebagai bagian dari pertunjukan kolaborasi yang akan diselenggarakan pada 29 Agustus 2026 dan 6 September 2026. Sebelum pertunjukan berlangsung, peserta akan terus menjalani latihan dan pendampingan untuk mematangkan permainan musik serta membangun koordinasi dengan kelompok Bantengan.
Link berita asli di sini.

Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.