CARA MENDAFTAR

1 Kunjungi pmb.machung.ac.id.
2 Lengkapi Data.
3 Tunggu Email Konfirmasi

Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: info@machung.ac.id. Terima Kasih!

Jadwal Buka ADMISI UMC

Senin-Jumat 8:00AM - 5:00PM

Cerita IISMA, Perbandingan Budaya Jerman-Indonesia

by Humas Universitas Ma Chung / 12 February 2024 / Published in Machung

Angela Putri Natalia, salah seorang mahasiswi Program Studi Sastra Inggris angkatan 2020 berhasil menjadi salah satu awardee program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Ia menempuh studi selama satu semester di Universitas Humboldt Berlin. Kesempatan ini tentunya menjadi pengalaman baru dan berharga bagi Angela, khususnya dalam kaitannya dengan mengenal budaya atau kultur masyarakat luar negeri.

Dalam podcast Program Studi Sastra Inggris Universitas Ma Chung bertajuk “Yang Mengejutkan di Jerman – A Conversation with an Exchange Student,” Angela berbagi pengalamannya saat mengikuti program IISMA setelah kurang lebih 1 bulan tinggal di Jerman.

Ketika ditanya Wawan Eko Yulianto, Ph.D. yang merupakan Dosen Prodi Sastra Inggris sekaligus pembawa acara podcast tersebut, Angela menyampaikan bahwa terdapat beberapa hal baru yang ia temui selama tinggal di Jerman. Salah satunya adalah mengenai jam buka dan tutup toko di sana.

Di Jerman, pada pukul 8 malam, toko-toko dan apotek biasanya telah tutup. Selain itu, pada hari Minggu, kebanyakan orang Jerman lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, sehingga sebagian besar supermarket akan tutup selama hari tersebut. Hanya restoran-restoran dan museum yang tetap buka. Meskipun demikian, ada beberapa toko yang tetap beroperasi, namun biasanya ditujukan bagi mereka yang terlambat berbelanja. Harga barang di toko-toko tersebut cenderung lebih tinggi daripada harga di toko-toko biasa.

Rata-rata, orang Jerman juga cenderung memisahkan kehidupan pribadi dan profesional mereka. Meskipun seseorang bisa memiliki teman sekerja, itu tidak menjamin bahwa mereka akan menjadi teman yang bersosialisasi di luar lingkup pekerjaan. Secara umum, budaya kerja di Jerman sangat disiplin. Di luar jam kerja, mereka akan sepenuhnya berhenti bekerja dan menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga.

Masyarakat Jerman juga dikenal sangat langsung dalam menyampaikan pendapat mereka. Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang cenderung memberikan pujian terlebih dahulu sebelum menyatakan niat mereka, orang Jerman akan langsung menyampaikan kritik atau pendapat mereka tanpa basa-basi. Angela juga menambahkan bahwa di Jerman, orang-orang saling mengingatkan satu sama lain untuk mematuhi peraturan, seperti tentang penggunaan masker saat menaiki transportasi umum atau cara menyeberang jalan, dan lain sebagainya.

Penglaman Angela saat mengikuti program IISMA ini sejalan dengan mata kuliah Cross Cultural Understanding yang diajarkan di Universitas Ma Chung, di mana mahasiswa diajarkan untuk mencoba mengenali suatu budaya bukan dari stereotype atau kata orang, melainkan dari pengamatan sendiri. Adapun terdapat 6 Cultural Codes yang dipelajari mahasiswa di antaranya adalah:

  1. Directness
  2. Formality
  3. Assertiveness
  4. Enthusiasm
  5. Self-promotion
  6. Personal disclosure

Melalui pengalaman tersebut, Angela mampu membandingkan perbedaan budaya antara warga Jerman dan Indonesia. Meskipun orang Jerman cenderung bersikap langsung dalam menyampaikan pendapat, Angela mencatat bahwa orang tua di Jerman ternyata sangat ramah.

“Orang tua di sini sangat ramah. Sebelumnya, saya mendengar stereotip bahwa orang Jerman cenderung bersikap grumpy, terutama yang sudah lanjut usia. Namun, setelah tinggal di sini selama sekitar satu bulan, saya menyadari bahwa orang tua di Jerman justru sangat ramah, bahkan lebih ramah daripada orang-orang dari kelompok usia lainnya,” ujarnya.

Sebagai penutup, Wawan Eko Yulianto, Ph.D. mengingatkan kepada seluruh pendengar podcast untuk bijaksana dalam mengamati sebuah budaya dan dalam menentukan sikap.

“Kita selalu mengamati pola-pola budaya dan kemudian menentukan sikap kita serta cara kita untuk menyesuaikan diri,” ungkap Wawan.

Kisah Angela selama program IISMA memberikan wawasan yang menarik tentang kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Jerman dan menyoroti pentingnya pemahaman lintas budaya dalam menghadapi perbedaan. Universitas Ma Chung, sebagai institusi tempat Angela berasal, secara konsisten memberikan dukungan kepada mahasiswanya untuk memperluas wawasan dan pengalaman mereka demi menciptakan lulusan yang berkualitas dan berwawasan global.

Dengarkan podcast pengalaman Angela di Jerman sekarang di sini.

Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka  Segera Daftar Sekarang.

TOP