Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND
Penulis:
Andika Satria Perdana
Dipublikasikan Minggu, 1 Nov 2026 | 15:11 WIB
RADAR MALANG – Kemudahan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mempercepat penulisan karya ilmiah kini membawa tantangan etis serius bagi dunia akademik. Menanggapi fenomena tersebut, Universitas Ma Chung menggelar diskusi ilmiah yang membedah “Landasan Etis Filosofis Penggunaan AI dalam Penulisan Akademik” pada Jumat (30/10).
Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum. Menekankan pentingnya menjaga otonomi intelektual di tengah maraknya penggunaan AI. Menurutnya, proses menulis merupakan sarana krusial untuk mengasah kemampuan merumuskan masalah, menimbang alasan, serta merevisi posisi berpikir.
“AI memang dapat mempercepat penulisan. Tetapi ingat, kecepatan bukanlah ukuran kebenaran, dan kemudahan bukan pembenaran moral. Pertanyaan etisnya bukan seberapa banyak AI digunakan, melainkan kapasitas intelektual apa yang tetap dibangun oleh manusia,” tegas Prof. Siti Murtiningsih.
Ia mengingatkan bahwa delegasi berpikir secara terus-menerus kepada AI berisiko mengikis kemampuan akademik dalam menguji serta menilai sesuatu secara mandiri.
Dalam pemaparannya, diskusi berfokus pada prinsip serta kelola penggunaan AI di perguruan tinggi
Prinsip tata kelola AI berdasarkan UNESCO yaitu harus sesuai dengan Martabat manusia. Adanya transparansi apabila AI dilibatkan, sehingga dapat disajikan secara proporsional dan prosesnya dapat diaudit.
Pada pengelolaannya AI juga memiliki porsi tertentu. AI hanya diperbolehkan sebagai alat bantu atau tools, bukan sebagai bahan hasil utama. Informasi yang dihasilkan memiliki kewajiban verifikasi agar terwujud kredibilitas sumber.
Dalam sesi tanya jawab, Prof. Ginting mempertanyakan bagaimana kita dapat bijak menentukan pilihan dari beberapa pilihan yang diberikan AI. Pertanyaan itu ditanggapi Prof. Situ dengan menjelaskan AI memberikan jawaban yang menyesuaikan algoritma pengguna. Oleh karena itu, jawaban atau pilihan pasti akan cenderung menyesuaikan keinginan penggunan dan dapat dianggap tidak konkret. Meski algoritma AI menyesuaikan respons berdasarkan pola pengguna, penentu arah akhir tetaplah manusia.
Rektor Universitas Ma Chung Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menehan Taneo, M.S., M.Sc juga ikut berdiskusi dan menegaskan bahwa AI seyogianya diposisikan murni sebagai tools (alat bantu), bukan pusat dari pembelajaran yang seharusnya human-centered learning.
“Saat ini prosesnya tampaknya belum bergeser penuh ke arah human-centered. Melalui diskusi ini, Universitas Ma Chung menghimpun berbagai masukan komprehensif yang akan dijadikan dasar penyusunan panduan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” pungkas Rektor Ma Chung.
Editor : Andika Satria Perdana
Link berita asli di sini.

Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.