Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND
suyonowarso
23 Februari 2025
Malang, SERU.co.id – Apa yang membuat sebutir mutiara begitu berharga? Jawabannya diungkap oleh Rinda Puspasari, S.Pi, MP lewat bukunya ‘Bertemu Mutiara, Indonesia’. Dalam acara launching dan diskusi di Hotel Tugu Malang, buku ini menggali filosofi mendalam dan perjuangan di balik kilau perhiasan mutiara.
Dalam kesempatan ini, pakar oseanografi perikanan dan dinamika ekosistem laut dari Universitas Brawijaya (UB), Prof. Aida Sartimbul menyoroti, dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut, termasuk budidaya mutiara. Ia mengungkapkan, pemanasan global menyebabkan penurunan tingkat reproduksi kerang yang berperan dalam produksi mutiara.
“Dalam budaya Jepang, mutiara putih hanya digunakan dalam prosesi pemakaman sebagai simbol penghormatan tertinggi. Filosofinya adalah hanya boleh menggunakan sesuatu yang sangat berharga dalam momen istimewa,” seru Prof. Aida di hadapan para audiens, Sabtu (22/2/2025).
Menurutnya, buku ini tidak hanya membahas proses budidaya mutiara, tetapi juga menyajikan filosofi mendalam di baliknya. Penulis menggambarkan perempuan sebagai mutiara, sesuatu yang sangat berharga dan penuh makna. Proses penulisan buku ini sendiri memakan waktu hingga tiga tahun, dengan penelitian mendalam mengenai budidaya mutiara.
Sementara itu, sang penulis, Rinda Puspasari, berbagi pengalaman dan inspirasi yang melatarbelakangi karyanya. Ia mengatakan, kecintaannya terhadap hewan air telah membawanya mendalami dunia mutiara.
“Buku ini bukan sekadar tentang mutiara, tetapi juga perjalanan, pengetahuan dan filosofi di baliknya. Saya berharap buku ini dapat mempererat silaturahmi antar pembaca melalui pemahaman yang lebih dalam tentang mutiara,” ungkap Rinda.
Tak lupa, aktris dan pegiat perhiasan, Happy Salma turut memberikan perspektif bisnis dalam dunia mutiara. Menurutnya, mutiara bukan hanya soal keindahan, tetapi juga memiliki nilai mendalam dalam kehidupan dan etos kerja.
“Mutiara yang buruk akan dibuang, seperti halnya dalam hidup, dimana integritas sangat penting. Buku ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai proses panjang di balik sebutir mutiara,” tutur Happy.
Dalam diskusi ini juga diungkapkan, Indonesia memiliki potensi besar dalam industri budidaya mutiara, terutama di perairan Lombok. Namun, tantangan dari persaingan dengan negara lain seperti Tiongkok menjadi isu tersendiri. Meski demikian, kualitas mutiara air laut Indonesia tetap menjadi salah satu yang terbaik di dunia.
Dengan filosofi kuat, wawasan ilmiah dan perspektif bisnis, buku ini menjadi bacaan menarik dan bermanfaat. Khususnya bagi pecinta perhiasan, pemerhati lingkungan dan siapa saja yang ingin memahami lebih dalam makna dan perjuangan di balik kilau sebutir mutiara. (aan/ono)
Link berita asli di sini.
Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.