CARA MENDAFTAR

1 Kunjungi pmb.machung.ac.id.
2 Lengkapi Data.
3 Tunggu Email Konfirmasi

Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!

Jadwal Buka ADMISI UMC

Senin-Jumat 8:00AM - 5:00PM

Dapat Beasiswa S-3 di Korea Selatan, Dekan FEB Universitas Ma Chung Ngaku Sering Tidur Cuma Dua Jam Sehari

by Humas Universitas Ma Chung / 23 July 2025 / Published in Machung

Shintiya Yulia Frantika | Rabu, 23 Juli 2025 | 21:39 WIB

WartaJatim.CO.ID – Menempuh pendidikan doktoral di luar negeri bukanlah perjalanan yang mudah.

Beragam tantangan harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, sistem pembelajaran yang berbeda, hingga hambatan bahasa.

Namun, semua rintangan itu tidak menggoyahkan semangat Tarsisius Renald Suganda, SE., M.Si., Ph.D., CRA., CIC., dosen sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ma Chung periode 2025–2027, dalam menyelesaikan studi S-3-nya di Korea Selatan.

Renald mengungkap bahwa impian untuk belajar di luar negeri sudah ia tanam sejak lama.

Setelah melalui seleksi ketat, ia berhasil lolos dan mendapatkan beasiswa bergengsi dari pemerintah Korea Selatan.

Ia memperoleh beasiswa penuh dari Global Korea Scholarship (GKS) 2020 melalui jalur Embassy Track.

“Beasiswa ini sangat kompetitif dan memberikan fasilitas penuh. Tapi tantangannya juga besar. Tahun pertama, semua penerima beasiswa wajib mengikuti kursus intensif bahasa Korea, lima hari dalam seminggu, dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Kalau tidak lulus tes profisiensi bahasa level 3, langsung dipulangkan,” jelas Renald.

Meski perkuliahan disampaikan dalam bahasa Inggris, penguasaan bahasa Korea tetap menjadi kunci dalam berinteraksi sehari-hari.

Tinggal di Daegu, kota terbesar ketiga di Korea, menuntutnya untuk lebih cepat beradaptasi karena masyarakat di luar Seoul cenderung lebih banyak menggunakan bahasa Korea dalam percakapan.

Renald mengungkap perbedaan besar antara budaya akademik di Korea dan Indonesia.

“Hari-hari kami diisi penuh dengan riset di lab dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Tidur dua jam sehari sudah biasa,” kenangnya.

Ia menyampaikan bahwa mahasiswa doktoral di Korea dituntut untuk terlibat langsung dalam riset aplikatif yang relevan dengan kebijakan negara.

“Di Korea, riset itu bukan hanya untuk publikasi, tapi juga untuk policy. Ini yang membedakan dengan sistem di Indonesia,” ujarnya.

Selain di bidang akademik, Renald juga menghadapi berbagai tantangan dalam beradaptasi secara sosial dan budaya. Namun, ia mengapresiasi nilai-nilai positif yang ia temui, seperti disiplin waktu, etos kerja tinggi, dan sistem transportasi publik yang efisien.

“Kalau handphone atau laptop tertinggal di bus, bisa kembali. Semua dikembalikan dengan aman. Saya tidak pernah merasa tidak aman walau pulang tengah malam,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti fasilitas publik yang mendukung kegiatan akademik, seperti perpustakaan bertingkat puluhan lantai yang menjadi tempat belajar favorit bagi mahasiswa dari berbagai negara.

Bagi Renald, ada beberapa hal penting yang harus dimiliki untuk bertahan saat kuliah di luar negeri:

1. Memiliki motivasi yang kuat dan tujuan yang jelas

2. Mampu beradaptasi dengan budaya baru

3. Mengatur waktu secara disiplin

4. Membangun hubungan dengan sesama mahasiswa dan dosen

5. Memanfaatkan teknologi untuk mengatasi hambatan bahasa

Menurutnya, keberhasilan studi di luar negeri bukan semata soal kecerdasan, tapi lebih pada ketekunan dan daya tahan menghadapi tekanan.

“Bukan soal pintar, tapi soal konsisten dan tahan terhadap tekanan. Kalau mau hasil yang berbeda, prosesnya juga harus berbeda,” tutupnya.

Link berita asli di sini

Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka  Segera Daftar Sekarang.

TOP