CARA MENDAFTAR

1 Kunjungi pmb.machung.ac.id.
2 Lengkapi Data.
3 Tunggu Email Konfirmasi

Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: info@machung.ac.id. Terima Kasih!

Jadwal Buka ADMISI UMC

Senin-Jumat 8:00AM - 5:00PM

Serunya Membuat Batik di Soendari Art

by Humas Universitas Ma Chung / 24 January 2024 / Published in Machung

Batik merupakan salah budaya khas Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karenanya, batik menjadi salah satu identitas bangsa yang harus terus dilestarikan. Dalam kunjungan hari ini, Bagian Kerja Sama dan Urusan Internasional (KUI) Universitas Ma Chung mengajak mahasiswa pertukaran pelajar program summer camp “Encounter Ma Chung 2024” untuk berkunjung ke Soendari Batik and Art pada 24 Januari 2024.

Soendari Batik and Art merupakan sebuah galeri yang juga memiliki butik dan museum kecil di dalamnya. Dalam upayanya untuk melestarikan budaya bangsa, turut aktif dalam memberikan pelatihan membatik kepada para tamunya baik dari dalam maupun luar negeri.

Dalam kunjungan hari ini, mahasiswa internasional pertukaran pelajar Universitas Ma Chung yang berasal dari CamTech University Kamboja dan Da-Yeh University Taiwan berkunjung ke Soendari untuk belajar langsung mengenai proses pembuatan batik. Dibimbing oleh Mbah Suki, mahasiswa internasional belajar tahapan demi tahapan dalam proses pembuatan batik.

Dalam materinya, Mbah Suki menjelaskan bahwa terdapat tiga macam batik, yakni tulis, cap, dan kombinasi antara tulis dan cap. Ia juga menerangkan bahwa dalam proses pembuatan batik harus terdapat coretan malam.

“Batik itu harus ada coretan malam. Apabila dalam prosesnya tidak ada coretan malam, maka itu bukan batik,” ungkap Mbah Suki.

Lebih lanjut ia menerangkan mengenai cara untuk membedakan antara kain batik dan bukan, yakni dengan melihat kepekatan warna di bagian permukaan depan dan belakang kain.

“Kalau batik ketika di bolak-balik pekatnya sama,” jelas Mbah Suki.

Mahasiswa internasional kemudian dijelaskan mengenai tahapan-tahapan dalam membuat batik mulai dari awal hingga akhir, yakni membuat pola gambar, menjiplak pola gambar, mencanting menggunakan malam, pewarnaan, pengeringan, penguncian warna, dan proses pelorotan (proses melepas malam dengan merebus kain dalam air panas).

“Bagaimana cara kita untuk memilih kain batik yang tepat, kain jenis seperti apa yang kita pilih?” tanya Aok, Thunmnychan Makara.

“Harus katun, selain itu juga dapat menggunakan sutra,” jelas Mbah Suki.

Pertanyaan-pertanyaan lain juga muncul di antara mahasiswa internasional atas antusiasme dan rasa penasaran mereka.

Setelah sesi materi selesai, mahasiswa internasional langsung mempraktekan pembuatan batik. Dengan serius dan berhati-hati, mereka mencanting pola di atas kain yang telah disiapkan. Tidak lupa, Mbah Suki beserta para mentor dari Soendari Batik and Art mendampingi dan mengajarkan mahasiswa tentang bagaimana posisi membatik dan cara memegang canting dengan benar.

Kemudian, mahasiswa internasional mulai mewarnai kain batik yang telah mereka canting. Penuh dengan kreatifitas, mereka bereksplorasi dengan berbagai warna untuk mengisi motif-motif di atas kain batik. Selain itu, mereka juga menggunakan teknik seperti gradasi untuk memperindah kain mereka. Mahasiswa internasional tampak sangat menikmati proses mewarnai batik ini.

Setelah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi museum yang terletak di lantai 2 Soendari Batik and Art. Dalam museum ini, terdapat berbagai macam benda-benda antik hingga alat musik tradisional khas Indonesia seperti gamelan dan angklung.

Tertarik dengan peralatan gamelan yang tersedia, Aok, Thunmnychan Makara mencoba memainkan angklung dan kendang yang ada. Ia juga menceritakan bahwa di Kamboja juga terdapat alat-alat musik tradisional yang serupa dengan gamelan.

“Di Kamboja, kami juga memiliki alat musik seperti ini. Tapi tidak boleh diletakkan di sembarang tempat, karena masyarakat percaya bahwa terdapat energi atau ruh di dalam alat musik tersebut,” cerita Makara.

Selain itu, ia juga menceritakan bahwa di Kamboja mereka memiliki alat musik yang disebut dengan “Capai” di mana alat musik tersebut serupa dengan alat musik Kecapi yang ada di Indonesia.

Di akhir kunjungan, mahasiswa internasional berkunjung ke butik yang ada di tempat yang sama. Mereka membeli cenderamata untuk dibawa pulang ke negara asal mereka.

Kunjungan ini menjadi upaya nyata Universitas Ma Chung dalam memberikan pengalaman belajar yang dinamis dan menyenangkan kepada mahasiswa internasional. Selain itu, melalui kunjungan ini mahasiswa internasional dapat memperoleh wawasan dan pengalaman global yang baru mengenai budaya Indonesia.

Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka  Segera Daftar Sekarang.

TOP