Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND

Perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI) di lingkungan perguruan tinggi membawa tantangan tersendiri bagi integritas akademik dan otonomi berpikir. Merespons fenomena ini, Tim Penelitian Universitas Ma Chung menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Landasan Etis-Filosofis Penggunaan AI dalam Penulisan Akademik” di Savana Hotel & Convention Malang pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh 31 partisipan internal kampus, meliputi pimpinan universitas, dekan, kepala program studi, hingga perwakilan dosen dan tim peneliti. FGD ini menghadirkan pakar filsafat pendidikan sekaligus Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., sebagai narasumber utama.
Fokus Riset

Dalam pengantar risetnya, Ketua Tim Peneliti Universitas Ma Chung, Antono Wahyudi, S.S., M.Fil., menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada dua pilar utama, yakni etika dan teori kebenaran.
Membuka acara secara resmi, Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo. MS., M.Sc. menegaskan pentingnya menempatkan teknologi secara proporsional dalam proses pendidikan. Ia menyoroti bahwa AI seyogianya tetap diposisikan sebagai instrumen pendukung, bukan pusat pembelajaran.
“Kita tahu AI ini adalah tools atau alat bantu, bukan sebagai pusat dalam pembelajaran. Cuma dalam prosesnya tampaknya ini belum banyak bergeser ke manusia sebagai pusat (human-centered),” ujarnya.
Kecepatan Bukan Ukuran Kebenaran

Memasuki sesi materi, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih mengingatkan bahwa kendati AI menawarkan efisiensi dan kecepatan, teknologi tersebut tidak boleh menggantikan esensi penalaran akademisi. Prof. Siti juga menekankan bahwa integritas bukan sekadar menghindari plagiarisme, melainkan mencakup tanggung jawab epistemik dan kejujuran proses berpikir.
“AI dapat mempercepat penulisan. Tetapi, kecepatan bukan ukuran kebenaran, dan kemudahan bukan pembenaran moral. Perguruan tinggi harus melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan bertanggung jawab, bukan sekadar memproduksi pengetahuan,” ujarnya.
Rangkaian FGD ini ditutup dengan diskusi interaktif oleh para peserta. Hasil dan rekomendasi dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi Universitas Ma Chung dalam menyusun panduan etika penggunaan AI yang tegas, aplikatif, dan bertanggung jawab bagi seluruh sivitas akademika.
Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.