Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND
Pernah terpikirkan berapa tarif air minum yang tepat, baik bagi pelanggan maupun bagi Perumdam? Pertanyaan itu coba dijawab Tim Laboratorium Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ma Chung, melalui kajian kebijakan penyesuaian tarif air minum Perumdam Among Tirto Kota Batu.
Kajian dilaksanakan oleh Tim Laboratorium Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ma Chung, di bawah kepemimpinan Kepala Laboratorium Bagas Brian Pratama, M.Tr.Ak. Tim riset diketuai Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., dengan Tarsisius Renald Suganda, Ph.D. sebagai koordinator.
Riset ini dimulai pada Agustus 2025 dan berjalan sekitar satu tahun, hingga tahap uji publik pada Oktober 2026. Fokusnya adalah Perumdam Among Tirto dan penyelenggaraan pelayanan air minum di Kota Batu, Jawa Timur.

Mengapa Tarif Air Tidak Sesederhana Kelihatannya
Air minum adalah kebutuhan dasar, sehingga kebijakan tarifnya berdampak langsung pada rumah tangga, pelaku usaha, keberlanjutan pelayanan publik, dan pengelolaan sumber daya air. Di sinilah dua kepentingan perlu dipertemukan:
Perumdam membutuhkan pendapatan memadai untuk operasional, perawatan jaringan, pengembangan infrastruktur, serta peningkatan kualitas dan kontinuitas layanan.
Namun, tarif juga harus tetap terjangkau dan memperhatikan perbedaan kemampuan membayar antarkelompok pelanggan. Tarif yang tidak seimbang dengan biaya pelayanan dapat melemahkan kemampuan investasi jangka panjang, sedangkan penyesuaian tarif tanpa mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi pelanggan berpotensi menimbulkan masalah keterjangkauan dan penerimaan publik.
Aspek lingkungan juga penting untuk diperhatikan, karena keberlanjutan layanan berkaitan erat dengan perlindungan sumber air dan investasi untuk menjaga keandalan sistem distribusi.
Lebih dari Sekadar Soal Angka

Kajian ini tidak hanya membahas besaran tarif. Tim juga menelaah struktur golongan pelanggan, kecukupan tarif terhadap biaya pelayanan melalui pendekatan Full Cost Recovery (FCR), kebutuhan investasi, potensi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan dampak sosial-ekonomi.
Salah satu fokus analisisnya adalah penataan golongan pelanggan rumah tangga melalui pengembangan segmentasi RT4 menjadi RT4, RT5, RT6, dan RT7.
“Penataan tersebut dikaji untuk menghasilkan struktur tarif yang lebih proporsional berdasarkan karakteristik pelanggan, pola konsumsi, dan kebutuhan pelayanan,” ujar Prof. Yufra selaku ketua tim riset.
Kolaborasi Heksahelix

Kajian ini menggunakan pendekatan heksahelix yang mencakup enam unsur, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, dan komunitas yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan.
Melalui pendekatan ini, kebijakan tarif ditempatkan sebagai bagian dari tata kelola pelayanan publik yang memiliki dimensi finansial, sosial, regulasi, komunikasi, dan ekologis.
Empat Tahap Kajian
Selama prosesnya, tim menganalisis data, mensimulasikan alternatif tarif, dan menyusun rekomendasi yang sesuai dengan kondisi pelayanan air minum di Kota Batu. Kajian berjalan dalam empat tahap:
Hasil Kajian dan Uji Publik

“Hasil kajian menunjukkan adanya kebutuhan untuk menata kebijakan tarif dengan mempertimbangkan kecukupan biaya pelayanan, segmentasi pelanggan, keberlanjutan keuangan, dan perlindungan masyarakat,” ujar Bagas selaku Kepala Laboratorium.
Menurutnya, simulasi dalam dokumen kajian juga memproyeksikan potensi peningkatan pendapatan bersih serta tambahan kontribusi PAD, dengan besaran yang bergantung pada skenario perhitungan yang digunakan.
Hasil kajian kemudian dibahas dalam uji publik bersama Wali Kota Batu, Sekretaris Daerah Kota Batu, dan Dewan Pengawas Perumdam Among Tirto. Forum ini menjadi bagian dari proses menguji argumentasi dan menyampaikan rekomendasi kebijakan.
Untuk Evaluasi Tarif ke Depan
Tarsisius Renald Suganda, Ph.D. menyebut kajian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan kebijakan pada periode berjalan sekaligus referensi evaluasi tarif di masa mendatang. “Kerangka heksahelix dapat digunakan kembali dengan memperbarui data dan indikator sesuai perkembangan biaya operasional, kebutuhan investasi, kondisi pelanggan, regulasi, tuntutan pelayanan, dan kondisi lingkungan,” ujarnya.
Dengan begitu, kontribusi utama penelitian ini adalah kerangka analisis kebijakan tarif yang berbasis data dan mempertimbangkan berbagai kepentingan, sehingga penyesuaian tarif dapat dikaji sesuai konteks dan dipertanggungjawabkan, tanpa menetapkan bahwa tarif harus naik secara otomatis pada setiap periode. Riset ini sekaligus menjadi wujud kontribusi nyata sivitas akademika Universitas Ma Chung dalam masyarakat.
Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.