📢 Raih Beasiswa hingga 100%* (*Syarat & Ketentuan Berlaku) Daftar Sekarang di Sini

CARA MENDAFTAR

1 Kunjungi pmb.machung.ac.id.
2 Lengkapi Data.
3 Tunggu Email Konfirmasi

Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!

Jadwal Buka ADMISI UMC

Senin-Jumat 8:00AM - 5:00PM

Ma Chung Tetap Jaga Sentuhan Manusia di tengah Gempuran AI

by Humas Universitas Ma Chung / 8 July 2026 / Published in Machung

08 Jul 2026 15:32 WIB
Malang
Oleh – Hanum Oktavia,
Editor – Syamsuddin

RRI.CO.ID, Malang – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini mulai mengubah cara belajar dan mengajar. Namun Universitas Ma Chung memilih tetap berpijak pada satu hal yang diyakini tak bisa digantikan teknologi, yakni sentuhan manusia.

Bagi Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc., kemajuan AI memang tidak bisa dihindari. Namun, pendidikan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan teknologi dan pencapaian akademik semata. Ada nilai-nilai kemanusiaan yang harus tetap menjadi inti dari proses pendidikan.

“Orang sekarang bisa kuliah secara online, semua bisa mendapatkan ijazah. Tetapi bagaimana dengan human touch-nya? Itu yang menjadi sangat menentukan di era AI. Orang bisa belajar AI, tetapi kalau tidak ada sentuhan nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan menjadi hampa. Mereka mendapat gelar, tetapi perilakunya belum tentu baik,” ujarnya saat Dies Natalis ke-19 Universitas Ma Chung, Selasa (7/7/2026).

Menurut Prof. Yufra, tantangan terbesar perguruan tinggi saat ini bukan hanya mengejar akreditasi unggul atau memenuhi berbagai indikator administratif. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan pendidikan mampu membentuk karakter dan mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

“Pendidikan bukan sekadar proses transaksional, selesai mengajar lalu tugas dianggap selesai. Pendidikan harus bersifat transformasional. Orang diubah dari yang tidak tahu menjadi tahu, itu pengetahuan. Tetapi yang lebih penting adalah mengubah yang tidak mau menjadi mau, yang kurang bertanggung jawab menjadi lebih bertanggung jawab, yang kurang memahami etika menjadi pribadi yang beretika,” tutur Guru Besar Bidang Manajemen Inovasi.

Karena itulah, Universitas Ma Chung tidak hanya mengukur keberhasilan mahasiswa dari nilai akademik atau indeks prestasi. Kampus juga mewajibkan setiap mahasiswa memenuhi poin keaktifan sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Melalui enam rumpun kegiatan, mahasiswa didorong aktif mengembangkan kepemimpinan, mengikuti organisasi, melakukan kegiatan sosial, mengembangkan diri lewat seminar dan pelatihan, memperluas wawasan tentang dunia pendidikan tinggi, hingga mengasah bakat dan minat sesuai potensinya.

Bahkan, aktivitas sederhana seperti menjadi pembawa acara atau panitia kegiatan kampus dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran.

“Ketika mahasiswa menjadi MC atau terlibat sebagai panitia, mungkin mereka belum sempurna. Tetapi justru di situlah mereka belajar memimpin, bekerja sama, berkomunikasi, dan bertanggung jawab. Itu bagian dari pendidikan karakter,” jelasnya.

Nilai kepedulian sosial juga menjadi perhatian kampus. Mahasiswa didorong terjun langsung ke masyarakat melalui berbagai aktivitas pengabdian, baik di lingkungan tempat tinggal maupun komunitas lain seperti rumah ibadah, yayasan sosial, hingga organisasi kemasyarakatan.

Komitmen membentuk karakter bahkan dimulai sejak mahasiswa pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Sejak dua tahun terakhir, Universitas Ma Chung mengganti konsep orientasi mahasiswa baru menjadi Ma Chung Festival.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan kampus, tetapi juga dipetakan potensi, minat, dan keterampilannya. Hasil pemetaan itu kemudian menjadi dasar pembinaan selama mereka menempuh pendidikan.

“Kami ingin mengetahui potensi terbaik mahasiswa sejak awal. Dari situ kami bisa membantu mengembangkan mereka, bukan hanya menjadi lulusan yang pintar, tetapi juga menjadi pribadi yang bertumbuh,” ujarnya.

Pendekatan yang sama juga diterapkan kepada para dosen. Universitas Ma Chung menekankan pentingnya kaderisasi agar nilai-nilai institusi terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia menilai budaya kampus tidak cukup dibangun melalui regulasi, tetapi harus hidup melalui teladan para dosen kepada mahasiswa.

“Universitas Ma Chung memiliki 12 nilai utama yang terus ditanamkan kepada sivitas akademika sebagai fondasi menghadapi perubahan zaman,” ungkapnya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kecerdasan buatan, ia meyakini teknologi hanya akan menjadi alat. Sementara itu, karakter, empati, integritas, dan kepedulian tetap menjadi kualitas yang membedakan manusia.

“AI akan terus berkembang. Tetapi pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan orang yang cerdas, melainkan manusia yang memiliki karakter, etika, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai kemanusiaan itulah yang tidak boleh hilang,” pungkasnya.

Link berita asli di sini.

Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka  Segera Daftar Sekarang.

TOP WhatsApp