Hubungi Kami Di 0811 3610 414, atau kirimkan email ke: [email protected]. Terima Kasih!
Official Website Universitas Ma Chung.
T : (0341) 550 171
Email: [email protected]
Universitas Ma Chung
Villa Puncak Tidar N-01, 65151, Malang, IND
Novi Embun Tristiani | Rabu, 23 Juli 2025 | 18:33 WIB
WartaJatim.CO.ID – Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, perhatian terhadap kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas belum banyak menjadi fokus utama para inovator.
Namun hal ini justru menjadi pendorong bagi Prof. Dr. Eng. Rommy Budi Widodo, Dekan Fakultas Teknologi dan Desain Universitas Ma Chung sekaligus dosen Teknik Informatika, untuk bergerak menciptakan teknologi yang lebih humanis dan inklusif.
Melalui pendekatan lintas disiplin, Prof. Rommy mengembangkan konsep assistive technology atau teknologi bantu untuk mendukung aktivitas harian penyandang disabilitas dan lansia.
Teknologi ini bertujuan membantu mereka agar bisa lebih mandiri dalam menjalani rutinitas, seperti berdiri sendiri atau ke kamar mandi tanpa bantuan orang lain.
Salah satu contoh konkret dari implementasi ini adalah alat bantu berdiri bagi lansia. Teknologi tersebut dirancang agar mampu mendukung pengguna dalam aktivitas dasar sehari-hari secara aman dan praktis.
Prof. Rommy menjelaskan bahwa kolaborasi antarilmu sangat penting dalam menciptakan teknologi yang tepat guna.
Menurutnya, Teknik Informatika harus bersinergi dengan bidang lain agar hasil akhirnya benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Teknologi ini juga menjadi sangat relevan di Indonesia, mengingat peningkatan signifikan jumlah lansia.
Berdasarkan data BPS tahun 2020, jumlah warga lanjut usia (di atas 60 tahun) mencapai 10,48% dari populasi nasional dan diprediksi akan terus bertambah seiring membaiknya angka harapan hidup.
Sayangnya, riset lokal yang fokus pada kesejahteraan lansia dan penyandang disabilitas masih terbilang minim.
“Perhatiannya masih kecil ke arah human welfare (kesejahteraan manusia) masih kecil, kita masih banyak memperhatikan kebutuhan kita sendiri dan tidak melihat ke arah sana (penyandang disabilitas dan lansia),” kata Prof. Rommy dikutip dari kanal YouTube Universitas Ma Chung.
Salah satu solusi konkret yang dikembangkan Prof. Rommy adalah tetikus (mouse) khusus untuk penyandang tuna daksa.
Ide tersebut muncul saat ia melihat bahwa banyak penyandang disabilitas dengan keterbatasan tangan mengalami kesulitan menggunakan komputer.
Untuk itu, ia menciptakan perangkat berbasis sensor yang ditempelkan pada pergelangan tangan pengguna.
Sensor ini memungkinkan kursor komputer bergerak seiring gerakan tangan, tanpa memerlukan kontrol kompleks dari jari.
Mouse ini juga dilengkapi dengan pedal kaki untuk pengoperasian klik, sehingga pengguna tetap bisa bekerja di bidang komputer dengan lebih setara.
Target dari inovasi ini bukan hanya kenyamanan, tetapi juga membuka peluang kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas.
Namun, setiap jenis disabilitas memiliki tantangan tersendiri. Oleh karena itu, Prof. Rommy menyadari perlunya diversifikasi desain agar bisa menjangkau lebih banyak varian kebutuhan penyandang disabilitas.
Ide mouse tuna daksa ini lahir dari Pusat Studi Human Machine Interaction (HMI) Teknik Informatika Universitas Ma Chung dan mendapatkan dukungan dana riset dari Kemendikbudristek periode 2019–2022.
Pada tahun 2023, teknologi ini menarik perhatian industri dan resmi diproduksi secara massal oleh perusahaan mitra. Meski sudah dikomersialkan, hak cipta tetap dimiliki oleh Universitas Ma Chung.
Langkah ini bukan akhir. Prof. Rommy berkomitmen melanjutkan pengembangan teknologi serupa agar semakin banyak penyandang disabilitas mendapat akses perangkat yang sesuai kebutuhan mereka.
“Teknologi perlu didiversifikasi sehingga ada produk lainnya. Bayangan saya ke depan, sensornya akan saya ganti dengan yang lain tetapi dengan konsep teknologi yang sama sehingga mencakup disabilitas tuna daksa lebih luas lagi.” jelas Prof. Rommy.
Mouse tuna daksa karyanya pun telah diganjar penghargaan atas kontribusinya dalam memperluas akses teknologi yang inklusif.
Tak berhenti di situ, ia juga menciptakan kacamata khusus tunanetra yang dapat mengubah teks menjadi suara serta memiliki fitur deteksi lingkungan dan keberadaan orang.
Meski sudah ada terobosan, Prof. Rommy menyayangkan bahwa teknologi assistive masih belum dikenal luas.
Banyak keluarga cenderung menyembunyikan anggota disabilitas, dan harga alat bantu yang mahal turut membatasi akses.
Di sisi lain, riset perusahaan bersifat tertutup (R&D) berbeda dengan pendekatan kampus yang bersifat terbuka dan publikatif.
Link berita asli di sini
Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka Segera Daftar Sekarang.